-
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

[SHORT REVIEW] Satria November 2 by Mia Arsjad

Data Buku


Judul                       = Satria November 2
Penulis                    = Mia Arsjad
Publisher                 = Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Cetakan Pertama   = 2014
Jumlah Halaman     = 272






Ringkasan Cerita
Jenggg...jenggg...beberapa hari belakangan ini kok Mima merasa diikuti seseorang ya? Ah, siapa sih? Emang sih Mima bawel dan nggak bisa diem, tapi apa iya kebawelannya itu bikin dia jadi dikuntit seseorang secara diam-diam gini? Nyeremin banget sih.

Oh, ternyata yang ngikutin Mima selama ini Inov toh. Ya ampun, Inov bukannya masih di Surabaya buat menjalani rehabilitasi dan penyembuhan dari 'sisa-sisa kebandelannya' dulu? Kok sekarang dia tiba-tiba ada di Bandung sih? Oh, Mima tahu nih, pasti Inov mau kasih surprise nyenengin di hari ultah Mima yang memang tinggal beberapa hari lagi ini! Ya ampun, sweet banget sih, Nov!

Tunggu dulu, tapi kayaknya Inov ke Bandung bukan mau bikin surprise buat Mima deh. Ada sesuatu lagi yang disembunyikannya. Masalah baru. Ya ampun Inov, dia kesandung masalah apa lagi kali ini?


Review dan Komentar
Waktu dua jam yang dibutuhkan untuk menamatkan sekuel satu ini membuktikan bahwa buku ini emang seru sehingga layak dibaca sekali duduk.

Mima dan Inov. Buat yang nggak tahu kisah Mima dan Inov di serial pertama: Inov ini adalah anak Tante Helena, kawan mama-nya Mima, yang dititipkan di rumah Mima dalam rangka perbaikan sikap (yaelah bahasa gue ancur amat, perbaikan sikap). Inov ini sebelumnya ketahuan memakai narkoba, jadi setelah ditaruh di panti rehabilitasi dan sembuh, doi dititipkan di rumah Mima gitu supaya bisa mempercepat kesembuhan si Inov. Mima awalnya belingsatan, tapi lama kelamaan nerima juga. Ternyata, gembong narkoba beserta kelompok tempat Inov biasa 'pesta' obat-obatan terlarang itu nggak terima gitu aja si Inov tobat dan berhenti memakai narkoba. Mereka memutuskan buat neror hidup Inov. Di sinilah petualangan Mima dan Inov di serial pertama dimulai.

Yang patut diacungi jempol dalam buku ini adalah keahlian Mia Arsjad dalam meramu masalah selanjutnya yang harus dihadapi Inov dan Mima. Ternyata komplotan narkoba yang mereka jebloskan ke penjara itu nggak terima gitu aja (ya iyalaaaah jelas), jadi komplotan itu menyusun skenario balas dendam kepada Inov dan Mima. Inov harus kerjasama dengan kelompok begal dan rampok suruhan Revo, gembong narkoba tempat Inov dulu, demi ngumpulin duit tebusan supaya bisa ngeluarin Revo dari penjara (Inov dan Mima lah yang berhasil memenjarakan Revo). Kalau Inov nggak mau, nyawa Mima dan Mika, kembaran Mima, jadi taruhannya.

Dari segi karakter, di buku kedua ini,baik tokoh utama maupun tokoh pendukung semuanya lebih di-explore oleh penulis. Seperti appearance-nya Inov yang digambarkan secara lebih detail (sehingga gue lumayan bisa membayangkan rupa-rupa Inov yang rambutnya messy messy gimana gitu mirip Austin Butler). Inov juga sekarang perawakannya katanya udah nggak terlalu begeng alias ceking lagi seperti di buku pertama. Udah lebih berisi dan lebih laki lah hahaha. Dari segi sifat juga Inov lebih matang dan wise. Untuk Mima juga, walaupun tetap ceriwis dan bawel as always, tapi di buku kedua ini doi dibuat lebih dewasa dan nggak terlalu meledak-ledak lagi. Dan untuk Gian, yang setelah melewati berbagai macam proses PDKT sama Mima di buku pertama dan pada buku kedua ini sukses menjadi pacar Mima, ternyata aslinya orangnya rada diktator gitu. agak mengecewakan sih. Tapi ya, Gian juga ga bisa disalahin juga, mau bagaimanapun Gian pasti ngerasa cemburu dan terusik lah melihat Mima jadi dekat-dekat lagi dengan Inov, malah terhitung lebih intim dari sebelumnya!
 
Jadi ya begitulah, Satria November dan Elmima Srikandi Millenia (namanya Mima lucu ya) kembali terlibat dalam petualangan menegangkan bersama kelompok begal dan rampok. Hahaha. 

Nggak nolak sih kalau mau dibuatin Satria November 3. Pasti dibeli kok :)


Rating gue di GoodReads: 4 of 5. Baca review gue di GoodReads di sini.
Read More...

[SHORT REVIEW] Al Dente by Helvira Hasan

Data Buku

Judul: Al Dente: Waktu yang Tepat untuk Cinta
Penulis: Helvira Hasan
Publisher: GagasMedia
Cetakan pertama: 2014
Jumlah halaman: 255







Ringkasan Cerita
Seperti apa rasanya dijodohkan dengan seseorang yang sudah lama kita anggap sebagai adik atau kakak kita? Silakan tanyakan itu kepada Cynara dan Benjamin Farid, sepasang newly wed yang sebenarnya memiliki sifat cukup bertolak belakang satu sama lain. Mestinya tak sulit buat mereka to start to love each other, toh kedua belah pihak keluarga mereka memang sudah menjalin hubungan akrab sejak lama. Namun tidak bagi Nara. Ia sebenarnya tak terlalu nyaman menyandang status sebagai istri pria kutu buku itu. Nara sudah terlanjur nyaman menganggap Ben sebagai kakaknya sendiri. Sementara bagi Ben, ia yakin tidaklah terlalu sulit untuk belajar mencintai Cynara yang notabenenya adalah sahabat Dita, adik Ben sendiri.

Seakan keraguan yang masih menghinggapi Cynara terhadap pernikahannya tak cukup mengganggu, muncul lagi masalah baru yang nggak kalah pelik. Kehadiran Elbert, the most wanted man all time versi-nya Cynara, yang kembali merasuki kehidupan Cynara tak ayal membuat dokter gigi cantik itu semakin linglung akan hatinya sendiri. Dan Ben, bener nggak sih kalau Ben itu ternyata masih ada hati untuk Milly, sahabat sekaligus cinta pertama pria pendiam itu?


Review dan Komentar
Yeah, i get this book bahkan sebelum buku ini edar di toko buku (karena kebaikan hati penulisnya plus pihak penerbit hehehe). Dan begitu tau tokoh utama pria dalam novel ini adalah seseorang yang doyan baca dan pendiam, gue langsung makin semangat bacanya. Hehehe. My own taste.

Judulnya ternyata diambil dari bahasa Italia. Itu sebuah istilah untuk spaghetti yang dimasak dengan waktu dan cara yang tepat, sehingga menghasilkan tekstur, kelembutan, dan rasa yang tepat. Jadi al dente maksudnya pas dan tepat gitu. So, does it relate to the story? Wooo, yaiya dong. Dan sebelum baca buku ini, baiknya siapin dulu pasta siap saji macam la font* or another kind of that. Penggambaran spaghetti di buku ini lumayan maknyus, sehingga cukup mancing perut untuk laper.

Mari beralih ke cerita. Ceritanya cukup ngalir. Apalagi ditambah dengan pengambilan PoV yang dari dua arah, yaitu Pov Cynara dan Ben, semakin memperlancar penulis dalam bercerita. Kedua PoV tersebut dibedakan dengan font. Oh well, tadinya gue sempet nggak ngeh. Loh, ini udah sudut pandang si Ben, tapi kok nggak ada semacam tanda atau bacannya gitu sih. Begitu diperhatiin lebih lanjut, ternyata font-nya beda.

Ada reviewer di GR yang bilang bahwa karakter Cynara sebenarnya amat sangat manusiawi. Then i put my agreement there. Ya, Cynara terasa bener-bener seperti cewek-cewek dalam sehari-hari kita: ngeselin (hello, the owner of this blog is the only exception hahaha taeeee). Cynara, you're really fuckin annoying. Di tengah her marriage life yang goyah ampun-ampunan, dia masih sempat-sempatnya jalan sama si Elbert Einstein (no, he's without Einstein. Pardon my jokes, ya).

Dan untuk Ben. Hei, Ben, gue paham lah elo tipe-tipe cowok yang nggak suka ngomong, apalagi sweet talk, dan biasanya sekalinya ngomong rada-rada ngejengkelin karena sounds ketus. Tapi, heeeeh, your spouse is having a joy with the one she wait the most, dan elo yakin bisa segitu sabar dan nggak ambil tindakannya? Entahlah, mungkin bakalan terasa lebih WAAAAW seandainya Kak Helvira menyisipkan adegan tonjok-tonjokan-ampe-bonyok-antara-Ben-dan-Elbert-karena-Ben-dah-gak-tahan-bininya-digodain-mulu. Yah, sekaligus declare bahwa Ben itu pinter, cool, tampan, dan juga MACOOOOOO! Hahaha. subjectively opinion.

Tata bahasa cukup oke. Typo nggak terlalu banyak (ehm, good deed, proofreader). Sayangnya, ada beberapa kalimat yang sounds sooo baku, tapi kemudian di kalimat selanjutnya justru kalimat gaul sehari-hari yang dipake. Tapi untuk penggambaran beberapa scene sayangnya terasa not really detail. Kayak scene Cynara dan Dita ketemu Elbert di outlet Mango, West Mall. Walaupun penulis dah berusaha menjabarkan keadaan di sana secara terperinci, tetap aja gue merasa sebenarnya detail-detail itu masih belom cukup untuk benar-benar menghidupkan adegan plus dialog yang terjadi di sana. Nanggung gitu, maksudnya.

Lalu di beberapa bab terakhir (berisi moment Nara dan Ben yang akan segera...hmm, let guess, baikan atau justru berpisah?), emosi pembaca akan semakin dipermainkan. Diaduk-aduk, diputer-puter, blablabla...dan i really like it! So somersaulting!

But overall... yes, i'm gonna list myself to buy Helvira Hasan's next work :)

Review gue di GoodReads: 4 of 5. Baca review GoodReads gue di sini.

Read More...

[SHORT REVIEW] Negeri Van Oranje by Wahyuningrat, Adept Widiarsa dkk.

Data Buku
Judul: Negeri van Oranje
Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Annisa Rijadi, Rizki Pandu Permana
Publisher: Bentang Pustaka
Cetakan pertama: April 2009 (cetakan edisi I) dan Juni 2014 (cetakan edisi II)
Jumlah halaman: 575






Ringkasan Cerita
Stasiun Amersfoort, badai, keretek, dan takdir adalah empat hal tak terduga yang mempertemukan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri di negeri Belanda. Dengan latar belakang kehidupan masing-masing yang amat berbeda, Lintang si penari dengan gelar cumlaude sastra, Banjar si eksmud marketing manager perusahaan rokok, Wicak si aktivis di sebuah LSM kehutanan Indonesia,  Daus si PNS di Departemen Agama, dan Geri si anak pengusaha konglomerat yang tajir melintir,  maka hanya ada satu persamaan yang melintasi mereka semua: status mereka sebagai mahasiswa magister di Belanda.

Maka, nikmatilah cerita perjalanan mereka dalam menikmati hidup sebagai mahasiswa rantau di Eropa. Segala konflik dan rintangan yang muncul, mereka berusaha hadapi dengan tetap terus menjalin erat persahabatan mereka. Mulai dari semalaman begadang demi paper, lelahnya badan karena terpaksa kerja part-time, berjam-jam duduk dan saling berkirim pesan di surel dan milis mereka, saling dukung dan menyemangati, sampai akhirnya jatuh cinta diam-diam satu sama lain...


Review dan Komentar
Empat bintaaaangggg !!!

Mari beri tepuk tangan yang meriah untuk novel ini!

Selamat untuk keempat penulis yang sukses banget membuat sebuah cerita yang menarik dan menghibur pembacanya.

Gelar best seller yang disematkan di novel ini membuat gue jadi super penasaran mo nongkrongin isinya. Sayangnya, karena sudah tergolong dalam kategori novel lumayan uzur, agak sulit mendapatkannya di Gramedia kota sini (kecuali online book shop).

Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu gue menemukan kabar gembira (no, stop saying kulit manggis, i will never have any worries to stab on you) di timeline @bentangpustaka bahwasannya NvO akan segera di-republish dengan penampilan yang jauh lebih fresh. Maka, here it is officially, di rak gue kini terjejer Negeri van Oranje edisi cetak ulang dengan cover yang 'distract pople to read'.

Dan ternyata nggak cuma cover yang looks gorgeous, isinya pun nggak kalah hypnotize ah-mazingly. Novel ini  dilengkapi dengan pilihan diksi yang pas dan tak terasa aneh. Bukan cuma itu, gue merasa bahwa the way of authors talk to mengandung amat banyak ilmu tapi hebatnya tetap terkesan sederhana dan tidak menggurui. Padahal, setelah menutup novel ini, gue sadar betul banyak suntikan pengetahuan baru yang didapat. A powerful teamwork.

Cara Wahyu, Adept, Annisa, dan Rizki mengkarakterisasikan Lintang, Geri, Daus, Wicak, dan Banjar juga terkesan amat manusiawi. Nggak muluk-muluk istilahnya. Dan gue memberi standing ovation untuk karakter Banjar dan Geri yang sangat loveable (terlepas dari background kaya-raya yang menghiasi kehidupan mereka ya hahaha). Banjar, aura 'laki' nya merasuk bangetttt hahaha. Dan Geri, yah walaupun dia ...., (jujur ya, gue patah hati banget pas tau the truth ini) but still, i adore cowok yang namanya diambil dari nama danau ini. Buktinya gue ampe rela lompat-lompat ke next page demi tau kelanjutan tokoh Geri ini seperti apa. Tak lupa pula pengeksekusian scene-scene mulai dari yang ringan, dramatis, sampai yang klimaks pun yang menurut gue terasa pas. Pay attention to detail banget. Rasa-rasanya, i couldn't agree more  dengan endorsement yang diberi Raditya Dika di sampul belakang novel ini, bahwa keakuratan dan kedetailan eksekusi cerita membuat pembaca berasa benar-benar berada di negeri tulip tersebut.

Hal menarik lainnya adalah adanya special footnote di sini. Footnote di NvO ini berbeda dengan footnote novel lain yang terkesan serius. Di NvO, footnote-nya berisi dengan jokes segar yang lumayan berhasil bikin kita cengar-cengir sendiri. Good deed.

Tapi, tapi, tapi, sebenarnya agak sedikit terganggu juga ya dengan beberapa fakta yang baru dibuka di ending cerita.Menurut gue terkesan maksa. Kenyataan bahwa Banjar dan Daus 'dipaksakan' melepas Lintang dengan jalan...(ah, baca sendiri deh), demi supaya Lintang dan...(ah, baca sendiri aja deh) bisa bersatu. Ganjil aja rasanya :(.

Tbh, ketika membaca buku ini, sebenarnya i feel a lil bit disturbed juga dengan beberapa kesamaan cerita dalam novel Gading-Gading Ganesha oleh Dermawan Wibisono. Bukan apa-apa, tapi beberapa bagian dalam novel yang ditulis oleh dosen petinggi di ITB tersebut memang terasa agak mirip dengan NvO. Gading-Gading Ganesha terkesan ngikut-ngikut dengan jumlah tokoh yang sama-sama lima orang, latar belakang tokoh yang miskin dan kaya (heeeh, ini mirip banget. Bandingkan Ria dan Benny dari Gading-Gading Ganesha dengan Lintang dan Geri dari NvO), penokohan dan pengkarakteran yang tabiatnya pun mirip-mirip, tema yang concern ke kehidupan kuliah, dll. Tapi tenang saja, NvO lahir lebih dulu daripada novel itu. Dan lagi, sorry to say, cerita yang dihasilkan NvO (amat sangat) jauh lebih 'hidup' dibandingkan Gading-Gading Ganesha. Hehehe. No sulking.

These are the main root of four stars I give without any doubt.
Read More...

[SHORT REVIEW] I Owe You Love by Sarah Dezaky

Data Buku
Judul: I Owe You Love
Penulis: Sarah Dezaky
Publisher: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Cetakan pertama: Juli 2014
Jumlah halaman: 240







Ringkasan Cerita
Sassy dan Luthfi, newly wed yang sebenarnya tidak pernah cocok. Terlalu banyak perbedaan yang menjulang tinggi di antara mereka. Sassy cerewet, Luthfi cuma ngomong sesekali. Sassy suka pedas, Luthfi alergi pedas. Sassy rapi dan teliti terhadap suatu hal, Luthfi berantakan dan never pay attention to detail. Sassy peduli dan ramah pada lingkungan, Luthfi apatis level akhir. Sassy seorang sanguinis, Luthfi sudah pasti tergolong plegmatis.

Dan semua perbedaan-perbedaan itu menjadi batu sandungan yang muncul ketika mereka mulai hidup berumah tangga. Ditambah lagi dengan kedatangan seseorang dari masa lalu Sassy, Adit, menambah kepelikan maalah yang terjadi. 

Luthfi tau, meskipun Sassy memilih menerima lamarannya, namun sepertinya hati wanita itu masih terikat pada Adit. Dan Sassy, terlalu banyak pertengkaran yang disebabkan perbedaan sifatnya dengan Luthfi membuat ia gamang, haruskah ia kembali pada Adit, atau justru keep staying on Luthfi's side untuk membayar lunas hutang cintanya pada pria pendiam itu?


Review dan Komentar
Kalo gue nggak salah, gue menyelesaikan novel ini cuma dalam dua jam, dari jam delapan pagi sampai jam sepuluhan. No interlude at all.

Karena buku ini dibeli dengan beberapa buku lainnya, gue memutuskan untuk membaca lebih dulu buku lainnya, yaitu His Wedding Organizer by Retni SB.

Tapi, baru beberapa halaman, kok gue makin tertarik untuk pindah hati ke I Owe You Love, ya?

Dan akhirnya, officially, gue memilih untuk mengesampingkan kisahnya Adra dan Harsya dalam His Wedding Organizer yang udah lebih dulu gua pretelin segelnya dan udah gua baca beberapa halaman demi buku yang cover dan blurb-nya asik asik joss ini.

Dan ternyata alhamdulillah i didn't make a wrong decision.

Superb.

Gilsyaw, keren abis, loh. Keahlian penulis meramu tema yang sebenarnya sudah lumayan mainstream ini menjadi sebuah cerita yang amat menarik untuk dibaca patut diacungi jempol. Temanya mungkin sudah biasa: pasangan banyak perbedaan, kemudian banyak masalah datang, ditambah masa lalu menghantui. Tapi gaya Sarah Dezaky bercerita beneran enak kok. Dialog-dialog yang dibuat nggak picisan. Diksi yang dipilih sedap. Penokohan dan sifat yang disematkan ke masing-masing tokoh juga terasa pas dan nggak lebay.

Hasilnya? Gue suka luar biasa sama Sassy, apalagi sama Luthfi Syahbana ❤. Hahaha. Bahkan beberapa bab-bab terakhir benar-benar menguras emosi luar dalem. Bikin yang baca jumpalitan ngebacanya.

Kayaknya ini novel debut, ya? Oke, kalau gitu, no worries, buku-buku Sarah Dezaky yang selanjutnya akan masuk ke daftar perburuan!

Damn highly recommended

Eh iya, i just realized kalo di novel ini ga ada halaman ucapan terimakasih dan biodata singkat penulis. Jadi, cover depan, kertas judul depan, langsung mulai bab prolog. Di akhir buku juga gitu. Nggak ditemukan biografi singkat penulis seperti buku-buku lainnya.

Rating yang gue beri di GoodReads: 4 of 5 dan baca review GoodReads gue tentang ni buku di sini
Read More...

[SHORT REVIEW] Lovely Proposal by Christina Juzwar

Data Buku

Judul: Lovely Proposal
Penulis: Christina Juzwar
Publisher: Bentang Pustaka (Pustaka Populer)
Cetakan pertama: Januari 2013
Jumlah halaman: 371






Ringkasan Cerita
Karla Adelia, pemilik Kedai Nona yang tahun ini genap berumur 31 tahun didera keinginan yang kerap menghantui tiap wanita seusianya: menikah. Sayangnya, Mario, lelaki-yang-lima-tahun-lebih-muda-darinya yang sudah dipacari sejak lima tahun lalu tak kunjung melamarnya. Worse, Mario justru memutuskan Karla secara sepihak!

Karla gamang. Di satu sisi, ia masih mencintai Mario sepenuh hati, tetapi di lain sisi, kedatangan pria-pria silih berganti seperti Paul, pemred majalah kuliner dan Charles, owner hotel bintang lima yang mati-matian jatuh cinta pada Karla juga rupanya cukup mewarnai hari-hari wanita cantik itu
.
Oh ya, jangan lupakan kehadiran Evan Handojo, best friend ever-nya Karla yang selalu ada di tiap susah senang. He keeps surprising all time.

Jadi, sama siapa akhirnya Karla bakalan married? Charles, Paul, Mario, atau justru Evan? Juga sebenarnya apa alasan Mario memutuskan Karla saat ia justru sedang sangat ingin menikah?


Komentar dan Ulasan
Kalau sedang main ke bookstore, sering juga sih sebenarnya melihat nama Christina Juzwar di sampul-sampul novel, tertera sebagai penulis. Tapi, ini pertama kalinya gua baca tulisannya.
Dan hasilnya.....
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
Kesel.
Kesel kenapa gua nggak baca ini dari dulu. Hahaha. Kewl!

Lo bosen ngeliat orang terlibat relationship, tapi si cowo selalu biasanya yang lebih tua daripada si cewe? Instead, you shud read this. Karena novel ini menyediakan kebalikannya. Unik.
Karla ini pastinya cantik, awet muda, hip dan seksi banget lah, ya. Kalo nggak, mana mungkin juga Mario, si ganteng yang notabenenya lima tahun lebih muda bisa jatuh cinta jungkir balik luar dalem sama Karla. Bayangin, lima tahun woy. Ehem, lumayan juga kan gap-nya. Hahaha.

Ide cerita yang diangkat, dialognya yang cerdas dan bermutu, gaya nulisnya yang nggak bikin hoam alias nguap, penokohannya yang seimbang, semuanya gua suka. Sori, bukan lebay. Tapi memang gitu kenyataannya. Segala macam emosi bertaburan di tiap scene. Kesel, seneng, sedih, manis. Gua yang udah dengan sotoynya nebak-nebak beberapa hal dalam buku ini, ujung-ujungnya dibikin malu sendiri karena salah tebak. Unpredictable stuffs happen much here. Contoh nih, gua kira awalnya karena Mario itu brondong jadi orangnya slengean, gatel, bad boy blablabla. Taunya? Tet tot! Salah! Terus gue pikir tokoh Mario bakal cuma berperan ampe pertengahan buku aja dan perannya ga bakal disinggung-singgung lagi. Eeeh, taunya....big big big wrong (lagi)! 

Tapi, walaupun bab-bab terakhir ngocok emosi kita banget, harus gue akui, gue nggak mengharapkan ending seperti itu yang terjadi.

Tbh, kalo penulisnya baca ni review: Dear, Kak Christina, actually gua lebih suka Mario loh daripada si Evan hehehe. Saking sukanya, ampe di awal-awal baca, gue sampe curi-curi buka halaman selanjutnya saking penasaran sama kelanjutan si brondong ini. Hehehe

I'll precisely bring this book to my favo-category.

Mario, sama gua aja yuk. Eh, lupa, kamu kan udah....
LOL.

Rating yang gue beri di GoodReads: 4 of 5 dan baca review GoodReads gue tentang ni buku di sini
Read More...

[SHORT REVIEW] Shit Happens: Gue yang Ogah Kawin, Kok Lo yang Rese?! by Christian Simamora dan Windy Ariestanty

Data Buku
Judul: Shit Happens: Gue yang Ogah Kawin, Kok Lo yang Rese?!
Penulis: Christian Simamora dan Windy Ariestanty
Publisher: GagasMedia
Cetakan Pertama: 2007
Jumlah Halaman: 310

   




Ringkasan Cerita
Ini cerita tentang tiga sahabat dengan profesi editor, penulis, dan jurnalis yang memiliki masalah hidup yang berbeda-beda. Langit yang masih shock therapy (sekaligus in love) karena tahu cowonya adalah gay, Lula yang nggak terima karena mantan pacar mendahului doi kawin duluan (dengan cewe yang dianggap Lula sebagai saingannya pula), dan Sebastian yang belom juga dapet pacar padahal udah ditanya melulu ama nyokapnya kapan kawin. 
 
Lula : I have a good job, I’m pretty, and, believe me, I’m not an airhead Paris-Hilton-like girl. I’m all what men need. Tapi, kenapa nggak ada cincin di jari manis gue?
Sebastian : Mangoli (nikah)… cuma itu yang ada di pikiran Mama akhir-akhir ini. Katanya, menikah itu sumber kebahagiaan. Talk to yourself, Mom. Your marriage isn’t a picture of a happy life. Kenapa sih terus-terusan maksa aku nyari calon parumaen (menantu) dan menikah secepatnya? 
Langit : We were a perfect couple. ‘till, I found his affair. Then, he left me. He chose his latest partner, not me. This is my question. WHY ?


Komentar dan Ulasan  
Ini murni subjektivitas komentar gue... 

Tau deh, mungkin karena gue merasa blurb-nya bagus,  so i expect too much, then it doesn't happen :( Jadi ceritanya gue udah terlanjur ngarep duluan bahwa tokoh-tokoh dan jalan ceritanya bakalan menyenangkan, ternyata enggak :(

Langit, Lula, Sebastian. Ketiga-tiganya nggak ada yang memenuhi harapan. 

Langit, blaaah...masalah dia yang galau menentukan gendernya menurut gue sama sekali bukan konflik yang 'wow'. 
Lula, maksudnya mungkin karakter Lula ini mau dibikin jadi cewek metropolitan yang super hip, yang playgirl, tapi kok malah jadi gatot alias gagal total. Sense 'cewe gaul' nya malah terasa fail abis. 
Sebastian, yang gue harepin bakalan laki banget, eeeh ga taunya doi klemar-klemer lembek. Gay pula. Yahhh, nambah bertumpuk deh kekecewaannya.

Semestinya gue udah nyangka, karena dari halaman awal aja, kening gue udah mulai dibikin berkerut dengan pembahasan mereka bertiga tentang "jemski" dan "ilalang" yang menurut gue persis obat nyamuk bakar, muter-muter ga ada ujungnya (omg, it's such a new diction of me. hahaha). 
Segi cerita juga ga tau kenapa ga berbekas, kayak enggak aja gitu. Konflik yang muncul, mulai dari aksi balas dendam Lula dengan mantannya yang mo merit, Seb dengan orientasi seksualnya, Langit dengan ketidakyakinan jenis gendernya, semuanya cuma bisa bikin kita, khususnya gue, bergumam...

 'ih...apasih...'

Overall, blurb-nya tidak sebagus isi aslinya. Trust to me when i say, deh. 


Rating yang gue beri di GoodReads: 2 of 5 dan baca review versi GoodReads gue di sini
Read More...

Sunshine Becomes You [Resensi]

Rabu, 15 Januari 2013.

Well, sudah 2014. Itu artinya sudah sekitar dua minggu berlalu sejak posting terakhir di blog ini. Kalau tidak salah, berbicara tentang resolusi di tahun 2014, ya? Ah, kedengarannya klise, tapi semoga anda-anda semua masih cukup mau untuk menengoknya.

Malam ini, jujur, saya tak punya terlalu banyak ide untuk ditulis, nih. Ah, gerah juga sih berada dalam keadaan seperti ini. Sehingga saya putuskan saja untuk sedikit me-review alias meresensi salah satu novel metropop cengeng milik Ilana Tan. Mengapa saya beri embel-embel cengeng? Karena, generally, hampir semua reader alias pembaca buku setebal 432 halaman ini tidak bisa sukses menahan bulir-bulir air mata mereka untuk terjun bebas. Yap, i'm one of them. Ehem. Saya bilang hampir semua lho, ya. Bukan semua. Jadi, no offense.

Ilana Tan. Penulis buku tetralogi alias empat serial buku 4 Musim: Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, Spring in London ini kembali menulis sebuah novel bergenre metropop berjudul Sunshine Becomes You.

Judul: Sunshine Becomes You
Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tebal: 432 hlm
Harga: Rp65.00
Rilis: Januari 2012 (cet. Ke-1)
ISBN: 978-979-22-7813-2
Ringkasan:
Alex Hirano, pria keturunan Jepang plus Amerika sekaligus pianis yang namanya sudah mendunia baik di kota The Big Apple alias New York maupun seluruh mancanegara. Suatu hari, ajakan adiknya, Ray Hirano untuk keluar makan siang dan memperkenalkan Alex dengan gebetan Ray justru tanpa dinyana membawa malapetaka tersendiri untuk Alex. Mia Clark. Pada awalnya, bertemu dengan penari kontemporer kesohor  berwajah cantik nan anggun itu adalah salah satu hal yang paling disesali Alex seumur hidupnya. Mengapa tidak? Bukannya memberikan first impression yang mengagumkan untuk Alex, Mia justru tak sengaja mematahkan tangan Alex lewat insiden kecil, jatuh dari tangga. Kecelakaan tangan itu tentu berdampak amat buruk untuk karir Alex yang notabenenya adalah seorang pianis handal. Apalagi Alex akan menggelar big concert tour dalam waktu dekat di beberapa belahan dunia.

Untuk menebus rasa bersalahnya pada Alex, Clark, begitu Alex biasa memanggil perempuan cantik ini, memutuskan untuk menjadi pesuruh a.k.a. maid di apartemen Alex. Awalnya Alex menolak mentah-mentah. Alex merasa, melihat wajah Mia saja sudah bisa membuatnya sial dan didera musibah-musibah lain.

Namun kegigihan Mia membujuk Alex bahwa everything is gonna be okay and nothing's bad happen ternyata membuahkan hasil juga. Alex akhirnya mengizinkan Mia untuk menebus kesalahannya. Dan cinta datang karena terbiasa. Quote manis itulah yang menggambarkan dengan tepat apa yang terjadi antara Alex dan Mia. Dinginnya hati Alex, lelaki yang wajahnya selalu melumerkan hati tiap wanita yang melihatnya, akhirnya cair juga. Padahal Alex bukan tipe pria penggombal ulung atau pria yang manis pada tiap keturunan Hawa. Ia kaku, jutek, gengsian, dan bersikap seadanya. Namun di tangan Mia, wanita yang memiliki bakat lebih dalam melenggaklenggokan tubuhnya inilah Alex luluh. Alex jatuh cinta. Jatuh cinta luar biasa terhadap Mia.
Namun perjalanan cinta mereka berdua tidak semudah yang dibayangkan. Alex dan Mia masing-masing masih enggan, gengsi, dan malu-malu mengakui perasaan masing-masing. Mia memiliki semua kriteria yang disukai para pria. Dengan banyaknya fans dan pria yang jatuh cinta pada Mia, Alex harus pandai-pandai mengatur sumbu cemburunya agar tidak tampak terbakar di hadapan Mia. Belum lagi masalah kecemburuannya selesai, Alex harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Mia menyimpan satu rahasia besar yang akan mengubah jalan cerita dan harapan mereka berdua.

Alex Hirano! Cukup. Sebagai wanita normal, harus saya akui, saya benar-benar mengharapkan ada Alex Hirano hadir dalam kehidupan nyata. Semua karakter Alex benar-benar masuk ke dalam list saya. Galak, kaku, gengsian, namun diam-diam perhatian dan manis. Keromantisan Alex yang tidak diumbar-umbar itu adalah salah satu dari sekian banyak daya tarik pria berkulit putih ini (seingat saya Ilana memang tidak mengatakan hal ini, tetapi saya membayangkan Alex, karena ia sebagai blasteran Jepang dan Amerika, absolutely, he has bright skin) untuk saya pribadi. Menurut saya, lelaki yang terkesan sedikit galak bin kaku namun sebenarnya manis dan romantis secara tersembunyi jauh lebih baik ketimbang pria yang memamerkan ke-sweet-an mereka di depan umum secara langsung, dan berlebihan mungkin. Uhuk. Subjektifitas. Dan entah kenapa saya membayangkan Alex Hirano ini adalah Alex Goot, (baca profilnya di sini) musisi asal Poughkeepsia, USA, kesukaan saya. My aspiring man! Ah!

Mia Clark juga berhasil menggambar sketsa dirinya sendiri di angan-angan pikiran saya. Dalam benak saya, saya sudah bisa seperti apa rupa seorang peruntuh kerasnya hati Hirano ini. Mirip dengan salah satu teman saya. Hahaha. Mia cantik, pandai, sangat berbakat dalam banyak hal seperti menari dan meracik kopi (walaupun saya pribadi adalah tea enjoyer, not coffee enjoyer, tapi saya cukup kagum dengan ability Mia yang satu ini), ramah, periang, tetapi penyakitan. Itu saja yang agak pasaran. Penyakit Mia menurut saya pribadi terlalu mainstream alias pasaran sekali. Baiknya kalau Ilana memberi Mia satu penyakit yang agak tak lazim. Untuk menambah greget isi cerita tentunya.

Isi keseluruhan: saya suka. Saya suka cara Alex bertindak. How he treats Mia, how he keeps his feeling really deeply, how he does not want to expose his jealousy, but he fails. Atau cara Mia tetap menutupi dan menahan perasaannya pada Alex. Hahaha. Ending cerita yang berhasil memancing kelenjar air mata untuk bekerja ini juga menjadi daya pikat plus pesona tersendiri dalam novel ini.

Beberapa sweet quote alias kutipan yang saya temukan dalam novel ini antara lain:
  1. "Apakah kau mencintaiku? Apakah ada sedikit saja kemungkinan kau bisa mencintaiku?"- Alex (hlm.415)
  2. "Aku mencintaimu, Alex Hirano. Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu." - Mia (hlm.429)
  3. "Mungkin kau tidak membutuhkanku. Tetapi aku membutuhkanmu." - Alex (hlm.415)
  4. "Kurasa aku termasuk salah satu orang yang merasa kau tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Karena cinta terjadi begitu saja. Tapi kalau aku harus menjawab pertanyaan itu, kurasa aku akan berkata bahwa aku mencintainya karena dia adalah Mia Clark."-Alex (hlm. 431)
  5. "Kuharap dia tahu bahwa selama aku masih bernapas, aku akan selalu mencintainya. Sepenuh hatiku. Selamanya."-Alex (hlm. 432)
So, i am never in any doubt to rate it with 4,5 of 5. Cihihi!



Read More...